Home Nasional Jawa barat Majalengka Keislaman Aswaja Khutbah Opini Sejarah BIOGRAFI MWC NU BANOM LEMBAGA PC NU Pendidikan PONPEST Serba - serbi DOwnload

Pandemi Covid-19 dan Vaksin

Pandemi Covid-19 dan Vaksin
oleh E. Peby Nurul Sadid, S. Pd. I
oleh E. Peby Nurul Sadid, S. Pd. I

Oleh : E. Peby Nurul Sadid, S. Pd. I

Sudah sekian lama Pandemi Covid-19 ini telah berhasil mengguncangkan dunia, dan berdasarkan data yang disampaikan oleh juru bicara pemerintah Indonesia. Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena dampak cukup parah.

 

Dikarenakan oleh keadaan ini, masing-masing dari seluruh steakholder yang jiwanya merasa terpanggil secara sigap telah mengambil bagian dan saling mengingatkan antara satu dengan yang lainnya untuk sama-sama bertanggung jawab, memutus mata rantai wabah pandemi Covid-19 yang telah banyak menelan korban jiwa hingga mengakibatkan banyak sekali sektor-sektor kegiatan lumpuh terkena dampaknya. Mulai dari Sosial, Ekonomi, Pendidikan, Olahraga, hingga Seni dan Kebudayaan.

 

Bagaimana tidak? Hanya dalam rentan waktu 1 sampai 4 bulan, Covid-19 sudah memakan ribuan jiwa. Namun bukan hanya ribuan nyawa yang telah hilang, akan tetapi virus corona inipun telah mengubah keberlangsungan tatanan kehidupan manusia, seperti dalam aspek sosial. Kasus yang paling menonjol menurut saya adalah turunnya nilai kepercayaan dan adab penghormatan kepada seseorang, contohnya tatkala kita bertemu teman, sodara atau karib keluarga secara berpapasan tanpa disengaja atau pun disengaja, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah “apakah dia negatif dari virus corona atau positif dari virus tersebut?”.

 

Tentunya hal itu merupakan awal dari hilangnya rasa kepercayaan dengan ditandai kecurigaan yang begitu amat besar tanpa melihat mereka teman, sahabat, sodara, kakak, adik bahkan orang tua kita yang setiap harinya terus bekerja karena keputusan dari perusahaan terkait ataupun sebab lainnya sehingga pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan, seperti pegawai swasta, pegawai pabrik, penjahit, petani dan lain sebagainya.

 

Selain dibidang sosial, ekonomi pun terkena dampak yang cukup signifikan, terhambatnya aktivitas perekonomian secara otomatis membuat pelaku usaha melakukan efisiensi untuk menekan kerugian. Akibatnya, banyak pekerja yang dirumahkan atau bahkan diberhentikan (PHK). Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) per tanggal 7 April 2020, akibat pandemi Covid-19, tercatat sebanyak 39.977 perusahaan di sektor formal yang memilih merumahkan, dan melakukan PHK terhadap pekerjanya. Secara total ada 1.010.579 orang pekerja yang terkena dampak ini. Dengan rinciannya, 873.090 pekerja dari 17.224 perusahaan dirumahkan, sedangkan 137.489 pekerja di-PHK dari 22.753 perusahaan. Sementara itu, jumlah perusahaan dan tenaga kerja terdampak di sektor informal adalah sebanyak 34.453 perusahaan dan 189.452 orang pekerja.

 

Dampak dibidang lain adalah dunia pendidikan, ini juga nampak sangat serius, sebab demi menghentikan penyebaran corona ini semua siswa dan gurunya hanya bisa belajar dari rumah, hal itu mendadak dilakukan tanpa adanya persiapan sama sekali. Ketidak siapan semua unsur dalam pendidikan menjadi kendala yang besar, adanya perubahan cara belajar mengajar dari tatap muka atau luring (luar jaringan) menjadi daring (dalam jaringan) membutuhkan kesiapan dari semua unsur, dimulai dari pemerintah, sekolah, guru, siswa dan orang tua, diakui memang pemerintah melonggarkan sistem penilaian pendidikan yang disesuaikan dengan keadaan darurat, asalkan pembelajaran tetap dapat berlangsung tanpa harus dibebani dengan pencapaian kompetensi. Sehingga banyak para siswa dan guru menggunakan metode daring ini hanya dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

 

Pandemi ini turut mengakibatkan penutupan pusat kebugaran, stadion, kolam renang, studio tari, kebugaran, pusat fisioterapi, taman, dan tempat bermain. Akibatnya, banyak orang tidak dapat berolahraga secara individu maupun kelompok. Bahkan, untuk kegiatan fisik di luar rumah saja, merekapun mengalami hambatan, ini semua dianggap sebagai dampak dibidang Olahraga.

 

Dalam dunia seni, dampak dari adanya wabah ini pula telah mengakibatkan banyaknya kegiatan-kegiatan seperti festival musik, karya seni, tour konser, sastra, pameran, pertunjukan tari, pentas teater, pantomim, dan lainnya telah ditunda dan dibatalkan, saya mendapat informasi ini dari referensi advokator seni, dimasa krisis ini sedikitnya ada 234 acara tersebut dikonfirmasi telah ditunda dan dibatalkan.

 

Atas adanya peristiwa ini, seluruh pemangku kebijakan tentu langsung mengambil sikap dengan mengeluarkan regulasi-regulasi yang dianggap penting guna mencapai sebuah cita, dalam hal ini adalah mengembalikan kehidupan agar kembali normal seperti sediakala.

 

Pemerintah dengan sekuat tenaganya melakukan segala cara dan upaya sebagai jalan ikhtiyar lagi-lagi untuk merealisasikan pemutusan mata rantai pandemi covid-19, Pengukuhan Satgas Penanganan Covid-19, yang tentu membutuhkan banyak sekali relawan yang bertugas, salah satu tupoksinya antara lain adalah untuk mengantisipasi adanya penularan wabah secara berlanjut, seruan melakukan 3M yakni Mencuci tangan, Memakai masker dan Menjaga jarak bergemuruh disetiap tempat diseluruh penjuru kota hingga ke desa-desa, program bantuan sosial yang mengeluarkan banyaknya anggaran dari pemerintah yang bersifat tunaipun digelontorkan untuk orang-orang yang terkena dampak disetiap lapisan masyarakat.

 

Namun, karena semua itu tidaklah disebut sebagai perjuangan jika tanpa adanya sebuah pengorbanan, rintangan dan halangan yang seakan menghadang langkah dan strategi ini juga kian mengkhawatirkan, seperti gugurnya banyak tenaga medis, simpang siurnya isue rapid tes dan vcr, korupsi dana bansos yang dilakukan oleh oknum Kemensosnya sendiri, meningkatnya berita bohong dan hoax tentang ini, meningkatnya sensitifitas antar sesama, hingga ada saja oknum masyarakat yang sama sekali tidak mau mengikuti aturan-aturan yang diberlakukan Pemerintah, dia tidak mau mengikuti pelaksanaan 3M sama sekali. Begitulah konsekuensi dari sebuah perjuangan, selalu ada rintangan dan halangan. Namun dalam hal ini pula, demi merealisasikan kebijakan yang telah dikeluarkan, seyogyanya Pemerintah harus senantiasa bijak dalam menghadapi halangan dan rintangannya.

 

Sampai saat ini, kita sudah menjalani lika liku peristiwa dimasa pandemi, saat ini upaya Pemerintah ternyata lebih serius lagi, Pemerintah berhasil menghadirkan vaksin yang bernama sinovac, salah satu diantara kegunaan vaksin sinovac ini adalah untuk memperkuat imunitas tubuh kita dari serangan virus Covid-19 ini. Namun lagi-lagi seolah Perjuangan memang harus selalu membutuhkan pengorbanan, ada saja oknum yang seakan bersikap sebagai oposisi secara pribadi dan kelompoknya yang bertujuan untuk menghalangi bahkan menjegal laju jalannya upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, ketidaksadaran akan bahaya buruk dan dampak dari pandemi ini masih ada disekitar lingkungan masyarakat kita, cibiran bahkan caci maki tidak lagi dipikirkan akan ditujukan kepada siapa, dimana, dan akan seperti apa pengaruh baik secara personal ataupun massal, bahkan seringkali cibiran dan cacian itu melesat langsung kepada Pimpinan Negeri ini, yaitu Presiden Jokowi. Misalnya, sebelum vaksin datang ke Indonesia, mereka menggoreng terlebih dahulu isue tentang Kas Negara yang dikalkulasikan akan habis karena dihambur-hamburkan hanya untuk ditukar dengan vaksin. Namun ternyata Presiden Jokowi menjawab bahwa Vaksin Sinovac ini akan disalurkan kepada masyarakat secara gratis dan tidak dipungut bayaran sama sekali.

 

 

Kemudiaan pinta mereka lagi, seperti bertujuan demi meraup kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahnya, mereka memberikan rekomendasi agar Presiden Jokowi sebagai orang yang pertama melakukan vaksin di Indonesia. dalam pidatonya, Presiden pun menanggapi hal itu dengan menyetujui bahwa dirinya akan melakukan hal tersebut.

 

Terasa tidak ada hentinya, mereka seakan tidak mempercayai bahwa Pemerintah sedang melakukan langkah yang lebih serius dalam berupaya memutus mata rantai pandemi ini, merekapun ingin agar dalam pelaksanaan penyuntikan vaksin kepada Presiden bisa dilakukan secara terbuka, agar seluruh masyarakat dapat menyaksikan hal itu. Untuk meyakinkan kepada warga masyarakatnya terhadap kesucian dan kehalalan vaksin ini yang memang dianggap akan mampu mempengaruhi perhentian penyebaran Covid-19 ini, Presiden Jokowi pun melakukannya, pada saat itu Presiden Jokowi adalah orang pertama yang melakukan suntik vaksin oleh Wakil dokter Kepresidenan yaitu Prof. dr. Habib Abdul Mutholib, SpPD-KHOM. secara terbuka yang telah diliput oleh banyak awak media baik televisi maupun media-media online.

 

Pada akhirnya, Menurut saya pandemi semacam ini memang harus kita hadapi secara serius oleh kita semua, tidak melulu hanya mengandalkan Pemerintah. Untuk itu, disini saya bertujuan mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia agar bisa lebih optimis, sadar, serta penuh dengan rasa tanggungjawab demi terwujudnya perbaikan-perbaikan di Negera kita tercinta Indonesia ini, bersama-sama mengikuti protokoler kesehatan, Karena bagaimanapun itu semua adalah langkah-langkah yang dianggap sebagai wujud ikhtiyar kita dalam memutus mata rantai pandemi Covid-19. Tugas kita saat ini, kita harus menyambut baik upaya Pemerintah dalam hal vaksin sinovac ini, karena selain Presiden sampai hari ini telah banyak orang yang melakukannya, ini bentuk bahwa Pemerintah tidak sedang main-main. Maka kitapun harus ikut dan menyatakan sikap bahwa Saya Siap Divaksin.

 

 

 Sekilas penulis:

- Alumni PP. Mansyaul Huda Heuleut Kadipaten (Pimpinan Dr. KH. Ahmad Sarkosi Subki)

- Demisioner Kabid PA HmI Cabang Majalengka

- SR. Cocacola Amatil Indonesia (Karyawan CCAI).

- Sekretaris Silaturrahmi Daerah Ikatan Alumi PP. Mansyaul Huda (Silatda IKAPPMH).

- Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Serikat Nelayan Nahdotul Ulama (PC. SNNU) Majalengka.

- Kabid Diklat dan Administrasi Lazisnu PAC. Jatiwangi.

- Dewan Pembantu Pimpinan PP. Nurul Qiyam Leuwikijing-Sukarajakulon.

 

#IndonesiaLebihSehat

#SayaSiapDiVaksin

Disampaikan dalam acara Silaturrahmi Ikatan Alumni PP. Mansyaul Huda yang dihadiri oleh Pimpinan Pondok Pesantren Mansyaul Huda dan Ketua IKAPPMH KH. Abu Mansur, S. Ag., M. Pd. I (KASI PAI KEMENAG Kab. Majalengka) dan Sekretaris Umum IKAPPMH KH. Humaidi, S. Pd. I (Kepala Bidang Ukhuwah Islamiyah Kab. Sumedang) dan kyai-kyai lainnya.